Menu Close

PCR Kumur, Apa Bedanya dengan RT-PCR?

PCR (Polymerase Chain Reaction) kumur atau gargle-PCR adalah salah satu metode terbaru untuk mendeteksi infeksi virus COVID-19 dalam tubuh seseorang. Bagi seseorang yang mengalami gejala infeksi virus COVID-19 dan pernah kontak erat dengan pasien positif wajib melakukan tes COVID-19.

Apa Perbedaan PCR Kumur Dengan dan RT-PCR?

Selama ini, tes PCR yang banyak digunakan dan dinilai paling akurat untuk mendeteksi virus COVID-19 ialah RT-PCR. Selain RT-PCR ada juga metode baru yaitu PCR kumur. Kedua metode pendeteksian virus COVID-19 tersebut memiliki perbedaan mulai dari metode pengambilan hingga sensitivitas. Berikut beberapa perbedaan tersebut.

Metode Pengambilan

Salah satu metode deteksi virus COVID-19 yang paling banyak digunakan dan dinilai paling akurat ialah RT-PCR. RT-PCR merupakan pengambilan sampel lendir melalui hidung (nasofaring) dan tenggorokan (orofaring) dengan metode usap (swab).

Di Indonesia sendiri, saat ini RT-PCR menjadi syarat wajib bagi seseorang yang ingin melakukan perjalanan udara.

Selanjutnya merupakan PCR kumur yang masih terbilang baru. Cara pengambilannya sendiri ialah berkumur pada posisi kepala mendongak keatas dengan menggunakan larutan air garam (air asin) selama 45 detik.

Metode pengambilan sampel PCR kumur dinilai lebih mudah dan tidak menimbulkan rasa sakit dibandingkan dengan RT-PCR. Metode ini juga lebih ramah bagi anak-anak.

Tingkat Sensitivitas

Saat ini RT-PCR merupakan salah satu metode pendeteksian virus COVID-19 yang dinilai memiliki sensitivitas paling tinggi. Sensitivitas pengambilan sampel dengan RT-PCR sekitar 95.2% Karena itu, bagi seseorang yang terdeteksi positif melalui hasil tes swab antigen atau rapid antibody, maka orang tersebut wajib mengikuti tes RT-PCR atau swab PCR.

Sedangkan untuk PCR kumur menurut Bio Farma, memiliki sensitivitas hingga 93,57% dan memiliki performance yang baik untuk CT <35. PCR kumur juga bisa mendeteksi CT hingga 40. Namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikannya.

Varian yang Bisa Terdeteksi

Meski hingga kini di Indonesia belum ada alat tes COVID-19 yang bisa mendeteksi sepuluh varian mutasi COVID-19, namun saat ini RT-PCR masih diandalkan untuk mendeteksi berbagai varian mutasi dari virus COVID-19.

Untuk PCR kumur, Indonesia mengeluarkan alat deteksi PCR kumur Bio Saliva yang di klaim dapat mendeteksi varian mutasi:

  • B 117 (Alpha)
  • B 1.351 (Beta)
  • B 1.617.2 (Delta)
  • P.1 (Gamma)
  • B 1.617.1 (Kappa)
  • B 1.525 (Eta)
  • B 1.526 (Iota)
  • B 1.466.2 (varian Indonesia)
  • B 1.427/29 (Epsilon)
  • C.37 (Lambda)

Sebelum melakukan tes, Anda harus menghindari hal berikut 30 menit sebelum melakukan tes COVID-19 dengan PCR kumur.

  • Makan dan minum.
  • Menggunakan obat kumur.
  • Menggosok gigi.
  • Mengunyah permen karet.
  • Merokok atau menghisap vape.

Karena bisa melakukannya secara mandiri, maka metode pengambilan sampel dengan PCR kumur dinilai lebih aman karena tidak memerlukan kontak langsung. Berbeda dengan RT-PCR yang mengharuskan nakes melakukan kontak langsung untuk mengambil sampel lendir dari pasien.

Meski begitu, Anda juga harus tetap menerapkan prokes saat pengambilan sampel. Dengan menggunakan masker yang sesuai anjuran serta mencuci tangan sebelum berkumur.

Selain itu di Indonesia masih sedikit lab yang bisa memeriksa hasil tes PCR kumur. Karena itu, jika Anda memiliki gejala yang mengarah ke COVID-19 atau memiliki kontak erat dengan pasien positif, Anda tetap harus melakukan tes RT-PCR untuk mendeteksi ada atau tidaknya virus COVID-19 di tubuh Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *